Yayasan Srikandi Lestari, PNTI dan LBH Medan Gelar Lokakarya Bersama Warga Desa Perlis

13

Perlis – Yayasan Srikandi Lestari gelar lokakarya bersama Warga Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat tepatnya di rumah salah seorang warga di Dusun VII Panglong, dengan tema Analisisi Kebijakan Pengelolaan Operasional PLTU Batubara, Kamis (27/8) sekira jam 11.00 WIB.

Dalam pertemuan itu, Direktur Yayasan Srikandi Lestari Sumiati Surbakti bersama tim Advokat dari LBH Medan M Ali Nafiah Matondang SH MHum dan Khairiah Ramadani SH, Pengurus PNTI Langkat Ahmad Rafii dan Wahyu Zar serta anggota dewan dari Komisi D DPRD Langkat Sandrak Herman Manurung memberikan edukasi kepada warga Desa Perlis tentang dampak limbah PLTU batubara.

Sumiati Surbakti mengatakan, limbah Flying Ash dan Botom Ash (FABA) sangat rentan mengganggu kesehatan masyarakat yang berdomisili di sekitar PLTU Pangkalan Susu.

“Mari sama-sama kita awasi dan monitoring terhadap aktifitas PLTU yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat,” ungkapnya.

Limbah air panas, kata Sumiati, diduga kerap dibuang ke laut tanpa memperhatikan ambang batas layak untuk dilepaskan ke alam.

“Saat kami melakukan investigasi, kami merasakan hawa panas dari air laut di dekat dermaga PLTU dengan suhu yang tidak wajar,” sambungnya.

Sementara, Advokasi dari LBH Medan M Ali Nafiah Matondang SH MHum mengatakan, LBH siap mendukung dan mendampingi masyarakat, jika ada intimidasi dari pihak manapun yang merugikan hak-hak masyarakat.

“Kami (LBH Medan) siap untuk mendampingi masyarakat,” pungkas Ali.

Kemudian, wakil rakyat dari Komisi D DPRD Langkat Sandrak Herman Manurung memberikan edukasi kepada masyarakat nelayan yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Secara moral, saya tetap peduli dengan setiap masalah pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Pengurus WALHI ini juga menambahkan, kelestarian lingkungan harus tetap dijaga. Semua daerah yang terkena dampak langsung dari pembangunan, seperti masalah limbah, maka semua lapisan masyarakat harus berpartisipasi.

“Mari sama-sama kita peduli terhadap pencemaran lingkungan, untuk kemaslahatan kita bersama. Kita bukan anti pembangunan, tapi kita minta agar korporasi memperhatikan masalah limbahnya,” tegas Sandrak.

Kalau tidak ada partisipasi masyarakat, kata Sandrak, semua kerusakan lingkungan akibat aktifitas korporasi, maka tidak akan terpantau.

“Dampak limbah, cepat atau lambat akan dirasakan langsung oleh masyarakat dan ekosistem, jadi harus diawasi secara ketat,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) Adhan Nur SE meminta PLTU Pangkalan Susu agar dapat menangani masalah limbah untuk lebih serius lagi

“Nelayan dan ekosistem disekitar PLTU sudah sangat dirugikan. Pihak terkait juga harus segera menindak semua korporasi yang melakukan pencemar,” tegasnya via seluler.

Kegiatan yang berlangsung dengan sangat sederhana itu dihadiri oleh masyarakat Desa Perlis dan Desa Sei Siur yang sangat antusias mendengarkan edukasi dari para narasumber.

“Kami berharap agar segala bentuk perampasan hak masyarakat untuk segera ditanggulangi,” pinta warga