Pemerhati dan Penggiat Lingkungan Sumut Konvoi Laut di Teluk Aru Tolak PLTU Energi Fosil

123
Yayasan Srikandi Lestari Pemerhati dan Penggiat Lingkungan Sumut Konvoi Laut di Teluk Aru Tolak PLTU Energi Fosil

Yayasan Srikandi Lestari bersama organisasi pemerhati dan penggiat lingkungan serta masyarakat pesisir pantai timur Langkat melakukan kampanye kreatif di atas perairan Teluk Aru, di Desa Sei Siur, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Sabtu (22/6/2019). Dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB hingga sore hari, diikuti sekitar 120 nelayan dan gabungan dari masyarakat sipil di Sumatra Utara tersebut melakukan arak-arakan (konvoi laut) dari lebih kurang 30 perahu tradisional nelayan dan kapal motor.

Peserta kampanye juga melakukan aksi bentang spaduk raksasa (9 X 7,5 meter) bertuliskan penolakan terhadap PLTU Batubara Pangkalan Susu dan mendesak pemerintah untuk menghentikan penggunaan energi fosil yang dapat berakibat sangat buruk dan merusak lingkungan.

Kampanye global lingkungan hidup bertema #BersihkanIndonesia ini juga digelar serangkaian memperingat Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) yang jatuh setiap 5 Juni.

Dalam kampanye tersebut juga digelar orasi yang disampaikan Direktur Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti dan Quadi Azam dari BITRA Indonesia, talkshow bersama NET.tv dan komunitas YouTuber Langkat di atas air dengan pembicara Rusdiana Adi dari BITRA Indonesia dan dari LBH Medan. Kegiatan lain yang semuanya dilakukan di atas air/laut adalah teatrikal, baca puisi lingkungan hidup, dan diakhiri dengan investigasi dari seluruh peserta tentang dampak PLTU ke perairan Pulau Sembilan, Pulau Kampai dan lingkungan masyarakat terdampak lain di sekitar PLTU Pangkalan Susu.

“Energi ini sebaiknya digantikan dengan energi baru dan terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan. Kami juga mendorong pemerintah untuk segera melakukan transisi energi yang berkeadilan dan melepaskan ketergantungan sistem energi dan ketenagalistrikan terhadap energi kotor batu bara,” kata Sumiati dalam keterangan tertulisnya yang diterima medanbisnisdaily.com.

Sumiati yang dalam kampanye tersebut selaku koordinator aksi mengatakan ketergantungan terhadap batu bara memiliki dampak negatif pada semua sektor. Keberadaan PLTU energi batu bara menurunkan tingkat kesehatan, menghancurkan produktivitas ekonomi rakyat dan merusak lingkungan.

Namun, papar Sumiati, di Indonesia masalah ini tidak dihitung oleh negara sebagai bencana sosial. Sepanjang kuartal satu tahun 2019, terangnya, penyaluran batu bara ke PLTU mencapai 23 juta ton. Jumlah itu setara dengan 23,95% dari target penyaluran batu bara ke PLTU sepanjang tahun ini.

“Ambisi pemerintah untuk membangun 35.000 megawatt PLTU juga sangat rentan terhadap korupsi dan suap yang berpusat pada pembangkit listrik di Indonesia,” tandas Mimi, panggilan akrab Sumiati.

Riset yang dipublikasi Greenpeace Indonesia, paparnya, menyebutkan PLTU batu bara diperkirakan telah menyebabkan 6.500 kematian dini setiap tahunnya. Dengan rencana pembangunan PLTU batu bara baru, angka kematian ini bisa mencapai 28.300 orang setiap tahun.

“Dari hulu ke hilir, biaya kesehatan, lingkungan dan sosial dari pertambangan batu bara tidak diperhitungkan yang pada akhirnya harus ditanggung rakyat. Biaya kesehatan dari PLTU Batubara misalnya, mencapai Rp 351 triliun untuk setiap tahun. Karena itu, Indonesia membutuhkan langkah serius untuk menghentikan penggunaan energi fosil, khususnya batu bara dan beralih pada penggunaan energi terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan di tahun 2025,” ujarnya.

Menurut Mimi, Sumatra saat ini berada diambang kehancuran ekologis, sebagai muara dari rakusnya penggunaan energi kotor batu bara. Menyandarkan sumber energi dari batubara adalah jalan yang salah, dipastikan akan memberikan dampak buruk bagi keselamatan lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya.

Ia menegaskan, PLTU Batubara Pangkalan Susu berkapasitas 2 kali 200 megawatt, mengakibatkan meluasnya penggundulan hutan bakau, erosi tanah, kehilangan sumber air, polusi udara dan menghasilkan jutaan ton limbah beracun.

Untuk itu, panitia bersama HLHS 2019 Sumut, menyerukan agar pemerintah berkomitmen untuk beralih dari energi kotor batu bara ke energi bersih terbarukan, dan untuk berani menghentikan proyek energi kotor batu bara yang menyengsarakan rakyat.

Bersamaan dalam momentum Perayaan HLHS, #BersihkanIndonesia mengajak seluruh elemen rakyat Indonesia untuk mendorong mewujudkan cita-cita “Indonesia berdaulat energi dengan mendorong pengembangan energi terbarukan, meningalkan ketergantungan pada energi kotor batu bara, memperbaiki tata kelola energi dan ketenagalistrikan yang menjunjung prinsip akuntabilitas, transparansi dan partisipasi publik, serta penegakan hukum pada semua kasus yang mengakibatkat kerusakan lingkungan.

Sejumlah organisasi pemerhati dan penggiat lingkungan serta masyarakat pesisir pantai timur Langkat yang tergabung dalam kampanye kreatif perayaan HLHS Sumatra Utara adalah Yayasan Srikandi Lestari Langkat, Aliansi Masyarakat Pesisir Pantai Timur (AMPPT), Langkat, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Langkat, Suara Teluk Aru (STAR) FM Pangkalan Brandan, Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia Medan, Hutan Rakyat Institute (HaRI) Medan, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Sumatra Utara, Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia Sumut, LBH Medan, Yayasan Ate Keleng Sibolangit, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Sumut, Perkumpulan Sada Ahmo Medan, Serikat Rakyat Binjai Langkat (Serbila) dan Kelompok Perempuan (KP) Sei Siur Bersatu, KP Indah Lestari, Lubuk Kertang, KP Maju Jaya, Pintu Air dan Kelompok Tani Nelayan (KTN), Pulau Sembilan.