Konflik Agraria Di Balik Listrik Kita

32
Konflik Agraria Di Balik Listrik Kita
Konflik Agraria Di Balik Listrik Kita

Untuk memenuhi kebutuhan listrik kita, dan agar kita bisa berselancar di kanal medsos tiap saat, pemerintah Indonesia terus menerus menggusur lahan pertanian dan ruang tangkap para nelayan. Tempat tinggal masyarakat adat yang tinggal bersama alam juga disingkirkan demi proyek ketenagalistrikan segelintir orang.

Di Pulau Sumatera, konflik agraria datang silih-berganti. Sawah, ladang, pantai, laut, yang jadi lahan pangan negara dibabat habis.

Untuk ambisi listrik dari energi fosil kotor batubara ini, mereka tak sungkan-sungkan menunjukkan kekuatan dengan mengerahkan aparat. Padahal banyak alternatif sumber energi bersih yang tersedia di negeri ini. Tapi batubara dipilih karena bisa jadi bancakan berjamaah para oligarcoal.

Di Sumatera Utara, hutan mangrove tempat hidup udang, kepiting, ikan, dan lokan dibabat habis hanya demi pendirian PLTU Pangkalan Susu. Para petani palawija merugi karena kekeringan. Hama pun meningkat. Begitu juga di Teluk Sepang, Bengkulu.

Tambang batubara yang tersebar di berbagai wilayah di Sumatera juga telah menebas hutan, merusak sumber mata air, dan mengakibatkan bencana ekologis.

Negara kita sedang sakit karena pandemi pun tetap dibajak oleh sekelompok orang jahat. Sambil berselancar, ayoo, jangan tinggal diam. Karena petani, nelayan dan peladang itu, yang jadi penyuplai pangan kita sedang bergerak untuk #GagalkanOmnibusLaw