Brown Brothers Energy Tampik Tanggapan NHSE

25
Brown Brothers Energy Tampik Tanggapan NHSE
Peneliti Tambang dan Energi Auriga Iqbal Damanik (dari kiri), berbincang dengan Direktur Srikandi Lestari Sumatera Utara Mimi Surbakti, Innisiator Penggerak Pembangkit Listrik Kerakyatan Tri Mumpuni dan Principal Brown Brothers Energy and Environment (B2E2) David Brown disela-sela diskusi mengenai Analisis Kebutuhan Energi di Sumatra Utara dan dampak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Jakarta, Rabu (22/1).

JAKARTA – Principal Brown Brothers Energy and Environment David W. Brown memberikan pernyataan yang membantah klaim PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) terkait dengan rencana pembangunan PLTA Batang Toru.

Sebelumnya, Communications and External Affairs Director dari NSHE Firman Taufick membantah tudingan bahwa PLTA Batang Toru tidak dibutuhkan.

Menurut David, pihak NSHE—perusahaan yang berencana untuk memiliki dan membangun dam PLTA Batang Toru—sebenarnya tidak menanggapi hasil analisis yang ia buat.

“Saya percaya bahwa apa yang dimaksud Pak Taufick adalah hanya PLN yang memiliki kualifikasi untuk memberikan informasi mengenai sektor energi Sumatra Utara. Saya ingin menyatakan bahwa sebenarnya, seluruh data yang ada di dalam laporan saya mengenai sektor energi listrik Sumatra Utara didapatkan dari sumber dokumen perencanan 10 tahun ke depan PT PLN (Persero) yang disahkan oleh Kementerian ESDM dengan judul: Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT. PLN (Persero) 2019 – 2028,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/1/2020).

Berdasarkan fakta tersebut, lanjutnya, analisis aritmetika normal dari informasi yang didapat dari RUPTL PLN 2019 adalah hal yang layak. David mengklaim menarik kesimpulan logis dari informasi publik yang diterbitkan sendiri oleh PLN.

“Laporan RUPTL 2019 PLN menjelaskan bahwa selama sepuluh tahun ke depan, PLN berencana untuk membangun (atau mengembangkan) 80 pembangkit listrik di Sumatra Utara di luar dam Batang Toru,” katanya.

Menurutnya, apabila 80 pembangkit listrik ini dibangun (atau dikembangkan) sesuai jadwal dan rencana, maka tingkatan produksi listrik Sumatra Utara pada 2024 akan dua kali lipat lebih tinggi dari kebutuhan puncaknya, tanpa Batang Toru.

“Keunggulan yang nyata dari pembangunan atau pengembangan 80 pembangkit listrik lain ini adalah, berbeda dengan Batang Toru, 80 pembangkit listrik ini tidak mengancam secara langsung hutan dataran rendah area inkubasi orangutan Tapanuli Indonesia yang baru ditemukan, yang diklaim oleh berbagai ahli biologi sebagai spesies Kera Besar paling rentan punah di seluruh dunia, selain juga merupakan bagian signifikan biodiversity Indonesia yang berharga.”

David juga menegaskan keahliannya sebagai pemilik Brown Brothers Energy and Environment, LLC yang memiliki pengalaman di bidang energi selama lebih dari 50 tahun. “Saya adalah Energy Policy Advisor bagi dua anggota Kongres Amerika Serikat, salah satunya adalah Senator Max Baucus ketika ia mengetuai US Senate Environment Committee.”

Bahkan, ia mengaku sempat bekerja sebagai penasihat dalam bidang minyak, gas, dan pertambangan bersama World Bank di Indonesia selama 7 tahun dan menulis Studi Kelayakan dan Proposal Investasi bagi pengambilalihan yang diusulkan untuk sebuah pembangkit listrik bioenergi di provinsi Kalimantan Timur.

“Dengan hormat saya menyatakan bahwa Brown Brothers Energy and Environment, LLC memiliki kualifikasi untuk memberi penilaian mengenai suplai dan kebutuhan energi listrik di Sumatra Utara, terutama karena pandangan kami sebagian besar sejalan dengan rencana elektrifikasi ESDM/PLN.”